Belajar dari Afghanistan, untuk Indonesia yang sudah 76 tahun

Foto di atas adalah foto dari REUTERS/Massoud Hossaini/Pool saat seorang perempuan Afghanistan sedang menunggu kedatangan Presiden Joko Widodo di Kabul, Monday, Jan. 29, 2018.  Saat saya menulis artikel ini rakyat Indonesia sedang memperingati kemerdekaan yang sudah berumur 76 tahun, 1945~2021. Sementara itu, Kabul direbut oleh Taliban dua hari sebelumnya, 15 Agustus 2021.

Tahun-tahun belakangan ini, rakyat Indonesia sudah 'diberi' peluang untuk belajar dari Amerika Serikat. Bagaimana negara adidaya semaju, semodern, itu bisa memiliki seorang presiden yang kontroversial seperti Donald Trump. Bagaimana negara yang bisa dikatakan memimpin pencapaian science, engineering, technology  di dunia bisa mengalami kesulitan untuk meyakinkan sebagian rakyatnya untuk memakai masker dan mengikuti vaksinasi di saat genting pandemi akibat varian baru Covid-19. 

Tahun-tahun berikutnya ke depan, rakyat Indonesia mungkin akan berpeluang untuk belajar bagaimana Taliban akan mengelola Afghanistan sebagai sebuah negara yang merupakan bagian dari peradaban manusia di Bumi ini. Kondisi yang sekarang ini berbeda dengan kondisi saat Uni Soviet (U.S.S.R) menyerbu Afghanistan dahulu. Waktu itu perbatasan di wilayah utara Afghanistan terutama adalah dengan Uni Soviet, dan sedikit dengan China. Dekade itu Iran dan Pakistan masih dalam pengaruh Amerika Serikat,  ini merupakan alasan bagi Uni Soviet untuk berupaya mengendalikan Afghanistan. Seiring dengan revolusi di Iran, Uni Soviet kemudian berupaya untuk terus memperkecil pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia Selatan. Tahun 2021 ini perbatasan utara Afghanistan terutama adalah dengan negara-negara bekas Uni Soviet sebagaimana terlihat di peta berikut ini. Komunisme klasik di wilayah utara itu sudah secara praktis runtuh.


Sekarang Iran telah menjadi musuh ideologis Amerika Serikat. China sudah menjadi adidaya baru di kawasan Asia dan bahkan dunia. Kekuatan mesin ekonomi China sudah menjadi yang dominan di negara-negara sekitarnya, bahkan sampai ke Afrika. Tetapi China masih memiliki masalah internal di dalam negerinya, berkaitan dengan penduduk di wilayah di ujung bagian barat. Berbeda dengan Tibet, Xinjiang tampaknya masih berpotensi untuk terus bergolak menuntut kemerdekaan.


China yang masih memiliki perbatasan dengan Afghanistan memerlukan kerja sama dari Taliban untuk dapat menjaga stabilitas keamanan wilayah dengan cara yang menguntungkan dari sisi kepentingan China. Sedangkan Taliban sangat mungkin membutuhkan China untuk dapat mempertahankan dan membangun Afghanistan. Kemampuan ekonomi dan teknologi China sudah terlihat dalam pembangunan di negara tetangganya, Pakistan. Taliban dapat menukar jaminan keamanan perbatasan dan tidak ikut campur urusan dalam negeri China dengan bantuan ekonomi dari negara adidaya baru itu. Seperti terlihat di gambar peta ini, perbatasan kedua negara tidak begitu besar tetapi sangat penting.


Menarik untuk dilihat apakah Taliban akan mengikuti 'gaya' Partai Komunis China dalam mengelola negara di era modern. China tetap menjaga 'brand' sebagai negara komunis, tetapi dalam praktiknya jauh sekali dari ajaran komunisme. China memang tetap menjaga pemerintahan yang sentralistik. Tetapi ada banyak sekali orang yang luar biasa kaya di China, sesuatu yang janggal untuk sebuah negara komunis. Sebagai contoh, salah satu daftar bisa dilihat dari majalah Forbes ini. Taliban dapat menjaga citranya sebagai kaum Islam konservatif tetapi menjalankan pemerintahan negara dengan cara yang 'lebih ramah terhadap pasar'. Sebab bahkan Arab Saudi sendiri pun sudah melakukan banyak reformasi kehidupan sosial di negaranya, dari yang tadinya banyak pembatasan menjadi lebih bebas. 

Atau bisa juga terjadi kemungkinan lain, Taliban akan tetap menjaga tata cara kehidupan di Afghanistan benar-benar sesuai citranya. Ini juga mungkin terjadi sebab para penguasa Afghanistan di masa lalu tumbang karena mencoba menerapkan pola hidup liberal atau komunisme. Kedua paham itu sudah pernah dicoba diterapkan dalam masa yang berbeda, dan keduanya gagal. Di Amerika Serikat sendiri bahkan masih ada kaum yang menjauh sebisanya dari modernisasi dunia, kaum Amish. Bisa dilihat nanti apakah konservatisme yang semacam ini yang akan diterapkan oleh Taliban.


Yang sekarang paling penting diperhatikan adalah sebaran semangat kemenangan Taliban. Kalau tidak percaya lihat saja lini masa di layanan jejaring sosial. Ini perlu dikelola dengan baik di dalam negeri Indonesia yang jika tidak hati-hati juga punya potensi konflik internal.

Setelah Uni Soviet yang rajin mengekspor paham komunisme runtuh, praktis hanya Amerika Serikat saja yang masih rajin mengekspor pahamnya, yaitu kapitalisme. Kuba pun tampaknya sudah tidak begitu bersemangat lagi untuk mengekspor semangat revolusi, sama nasibnya dengan Venezuela. Jepang dan Korea Selatan masih rajin melakukan ekspor produk budaya populer mereka, tapi tidak berupa ideologi. Arab Saudi dan Iran masih berkepentingan untuk berebut pengaruh dengan mengekspor cara pandang yang mereka miliki. Maka Afghanistan di tangan Taliban akan berpotensi untuk menjadi lahan subur untuk pertarungan ideologi dan kemudian mengekspornya ke wilayah lain. 

Maka dengan harapan Dirgahayu Indonesia (semoga panjang umur Indonesia), mampu untuk tetap tangguh bertahan dan tumbuh lebih lama dari 76 tahun, perlu diingat bahwa kemerdekaan itu tidaklah gratis. Sebagaimana yang tertulis di John Kennedy memorial di Arlington berikut ini. Sebagian orang Amerika Serikat sendiri mungkin sudah lupa. Sehingga mereka mengalami sendiri apa yang tadinya sulit dibayangkan dapat terjadi di sebuah negara yang maju. Semoga kita di sini memilih berkeringat di dahi dalam tahun-tahun mendatang daripada harus berdarah-darah lagi.



You'll only receive email when they publish something new.

More from Sunu Pradana